Saturday, 6 September 2014

PENGKAFIRAN TERHADAP AYAH DAN IBU RASUL SAW

BANYAK HADIS HADIS PALSU TETAPI DI MUATKAN SEBAGAI SAHIH MENGENAI PENGKAFIRAN KEPADA AYAH DAN IBU RASUL SAW

Mari kita lihat beberapa hadis  meletakan ayah dan ibu rasul saw seorang musyrik.

1. Diriwayatakan Muslim dari Anas: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Maka ketika ia berbalik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallammemanggilnya dan bersabda:

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.”

Hadits ini menunjukkan bahwa ayah beliau meninggal sebagai orang kafir. Dan siapa yang meninggal di atas kekafiran maka dia di neraka, hubungan kekerabatan tidak berguna dan tidak bisa menyelamatkannya. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: no. 302)

2. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang yang ada di sekitar beliau-pun ikut menangis. Karenanya beliau bersabda, “Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk saya beristighfar (memintakan ampun) baginya, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. Karenanya, lakukan ziarah kubur, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada kematian.”

3. Tafsir Ibnu Katsir, dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa kisah ini menjadi sebab turunnya firman Allah,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah: 113) dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengutarakan bahwa kesedihan ini merupakan naluri sayang seorang anak terhadap orang tuanya. (Lihat: Al-Hakim dalam Mustadrak: 2/336 beliau mengatakan, “Shahih sesuai syarat keduanya –Bukhari dan Muslim-; Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah: 1/189)

4. Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

Inilah di antara hadis hadis pembohongan yang mencela dan mengkafirkan ayah dan ibu Rasul saaw. Sehingga ada kalangan agamawan di negara kita yang masih berpegang kepada hadis hadis palsu tersebut.

HAKIKATNYA SEBARANG HADIS YANG BERCANGGAH DENGAN AL QURAN SEWAJARNYA DI TOLAK WALAUPUN DI KATEGORIKAN SAHIH

1. Allah swt berfirman dalam surat Al-Israa(17)ayat 15: ..”Dan kami tidak akan mengazhab sebelum kami mengutus seorang Rasul”

Hujah:Bukankah kedua orangtua Rasulullah saw sudah meninggal tatkala beliau berusia 8tahun,sedangkan pengutusan Muhammad sebagai Rasul baru dilakukan ketika beliau berumur 40tahun?

2. Asy-Syu’araa (Q.S-26:217-219) Allah swt berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.Yang melihat kamu ketika kamu berdiri(untuk sembahyang) dan melihat pula perpindahan badanmu dari(sulbi-sulbi) orang-orang bersujud”

Hujah: Disini kita melihat perpindahan badan(benih)Rasulullah dari satu sulbi ke sulbi yang lain.Dan sulbi-sulbi tempat persinggahan itu tidak lain adalah milik orang -orang yang bersujud(beriman). Apakah mereka yang bersujud dan beriman itu kafir?

RUMUSAN
Bagaimana kita boleh mendapat syafaat dan kasih sayang dari junjungan kita sedangkan dalam waktu yang sama kita mengkafirkan ayah dan ibu Rasul saw.

Thursday, 4 September 2014

MENGENALI ABDULLAH BIN SABA DENGAN LEBIH LANJUT

SIAPAKAH BELIAU?

Sebut sahaja Ahlul Bait atau Syiah maka akan muncul nama Abdullah bin Saba sebagai strategi MENTAL BLOCK penghalang kepada kebenaran.

POINT melihat kebohongan ABDULLAH SABA adalah dengan mengenal dulu SAIF BIN UMAR AL TAMIMI.

Kebohongan Abdullah B Saba’

Tokoh Abdullah bin Saba diciptakan oleh Saif bin Umar al-Tamimi, dalam kitabnya
“Al-Futuh” dan “Al-Jamal”. Sedangkan Saif sendiri wafat antara tahun 170H dan 190 H di masa kekuasaan Harun al-Rasyid

Sementara itu, telah dibuktikan oleh ahli jarh wa al-ta’dil ahlusunnah sendiri bahwa bahwa Saif bin Umar al-Tamimi adalah pembohong, munkar, dan tertuduh zindiq (ateis). Berikut beberapa pendapat mereka:

1. Yahya bin Mun’im, mengatakan: “Riwayat-riwayatnya lemah dan tidak berguna.”

2. Al-Nasa’i, dalam Sunan-nya, mengatakan: “Riwayat-riwayatnya lemah dan harus diabaikan, karena ia adalah orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut dipercaya.”

3. Abu Dawud mengatakan: “Tidak ada harganya, ia seorang pembohong.”

4. Ibn Abi Hatim, mengatakan: “Mereka telah meninggalkan riwayat-riwayatnya.”

5. Ibn al-Sakan, mengatakan: “Riwayatnya lemah.”

6. Ibn ‘Adi mengatakan: “Riwayatnya lemah. Sebagian dari riwayatnya terkenal namun secara umum adalah mungkar dan tidak diikuti.”

7. Al-Hakim mengatakan: “Riwayat-riwayatnya telah ditinggalkan, dan ia juga dituduh zindiq.”

8. Ibn Hibban mengatakan: “Ia terdakwa sebagai zindiq, dan memalsukan riwayat-riwayat.”

Ulama besar ahlusunnah Ibn Hajar al-Asqalani al-Syafi’i mengatakan: “Ibn Asakir kemudian meriwayatkan sebuah cerita panjang dari Saif bin Umar al-Tamimi dalam kitab Al-Futuh, yang tidak shahih sanad-sanadnya.” Ia lalu menambahkan: “Berita-berita tentang Abdullah bin Saba’ dalam sejarah memang terkenal, tetapi tidak satupun bernilai riwayat.” [Ibn Hajar al-Asqalani, “Lisan al-Mizan”, jilid 3, hal. 289].

Nama Abdullah bin Saba’ itu sendiri pertama kali muncul adalah di kitab Saif bin Umar al-Tamimi. Tidak ada kitab lain yang menyebutkannya, baik pada masa Saif, maupun pada masa sebelumnya. Sehingga, dengan melihat predikat Saif bin Umar al-Tamimi yang buruk tersebut, maka semestinyalah semua riwayat darinya ditolak (mardud), termasuk riwayat Abdullah bin Saba’

Abdullah bin Saba’ adalah tokoh palsu. Ia tidak pernah dikenal dalam sejarah Islam. Hal ini juga ditegaskan oleh pernyataan Ibn Hajar al-Asqalani.

Dengan demikian, fakta-fakta tersebut merupakan sanggahan dan bantahan terhadap semua pernyataan yang mendukung riwayat dan keberadaan Abdullah bin Saba’, baik yang berasal dari ulama ahlusunnah maupun dari ulama syi’ah terdahulu (sebagaimana yang anda kutipkan itu).


Khusus untuk kisah yang disampaikan oleh Sa’ad bin Abdullah al-Qummi (dalam kitabnya “Al-Maqalat wa al-Firq”) dan kisah yang disampaikan oleh al-Naubakhti. Sebagai dalil tambahan, kisah-kisah tersebut disampaikan tanpa diketahui isnad-nya dan sumber rujukannya. Sehingga semakin menguatkan dalil penolakan terhadap kisah-kisah tersebut. [Lihat: Murtadha Askari, “Abdullah bin Saba’ wa Asathiru Ukhra”, bab “Abdullah bin Saba’ fi Kutub Ahlil Maqalat”, hal. 189-191]

Wednesday, 3 September 2014

KEBENARAN KEUJUDAN IMAM 12 (SIRI AKHIR)





SILA AMATI VIDEO INI SEBAGAI SIRI TERAKHIR DALAM KEBENARAN KEUJUDAN IMAM 12 
DALAM PELBAGAI VERSI.

KEBENARAN KEUJUDAN IMAM 12 (SIRI 2)


APAKAH AKAN SESAT SEKIRANYA KITA MENCARI DAN MENGENAL 12 IMAM?


Seringnya kalau membangkitkan isu 12 imam, maka persepsi negatif akan di lontarkan. Malah yang menyerang tidak memahami dan ada yang tidak tahu akan keujudan hadis hadis mengenai 12 Imam.

Para ulama dari Ahlusunah  wal Jamaah menghadapi kebingungan yang parah ketika ingin menjelaskan dan menafsirkan hadis yang menyatakan “Imam/Khalifah berjumlah 12 orang” tanpa menemukan artinya, apalagi untuk bersepakat akan pribadi-pribadi tersebut.

Sehingga hal ini diakui oleh seorang tokoh ulama Ahlusunah sendri, Ibnu Hajar dalam “Kitab Fathul-Bari fi Syarh Sahih Al-Bukhari” (Lihat, Edisi II, Cetakan Darul Ma’arif-Beirut, Jilid 13, Hal 183) yang mengatakan; “Aku tidak menemukan seorangpun yang mengetahui secara pasti arti dari hadis ini”.

Kebingungan yang sama juga diakui oleh Ibnu Jauzi dalam “Kitab Kasyful Musykil” ketika berbicara tentang hadis 12 Khalifah tersebut.  Inti dan singkatnya,  kebingungan diantara mereka berakhir pada ulama satu akan menafikan dan mengingkari ulama yang lain, bahkan menvonis ulama lain terebut sebagai bodoh, sesat, dan sebutan negatif lainnya.

Sekarang mari kita lihat dengan seksama dan dengan teliti redaksi masing-masing hadis yang telah tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlusunah wal Jamaah ini:

1-      Imam Bukhari dalam Sahih Bukhari menuliskan:

Jabir berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan ada dua belas Pemimpin dan Khalifah.” Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Ayahku berkata bahwa Rasulullah .s.a.w bersabda: “Semuanya dari suku Quraisy.”

(Lihat: Sahih Bukhari, Kitab Al-Ahkam, no 6682, Jilid 4, Hal 168, Cetakan Mesir, Tahun 1351.  Bisa juga dilihat dalam; Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, no 3393, 3394, 3394, 3395, 3396 & 3397, Cetakan Mesir, Tahun 1334. Sunan At-Turmudzi, Kitab Al-Fitan, no 2149. Sunan Abi Dawud, Kitab Al-Mahdi, no 3731)



2-      Imam Muslim dalam Sahih Muslim menuliskan:

Jabir meriwayatkan: Aku dan ayahku menemui Rasulullah s.a.w.  Kami mendengar beliau bersabda: “Persoalan ini  (Kekhalifahan) tidak akan berakhir sampai datang dua belas Khalifah.” Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang  tidak kudengar. Aku menanyakan kepada ayahku tentang apa yang Rasulullah s.a.w sabdakan. Beliau (Rasul) bersabda: “Semuanya dari Quraisy.”

(Lihat: Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, Jilid 6, Hal 3, no 3393, Cetakan Mesir, Tahun 1334)



3-      Imam Muslim dalam Sahih Muslim menuliskan:

Rasulullah s.a.w bersabda: “Agama ini (Islam) akan tetap berdiri sampai dua belas Khalifah, yang semuanya dari golongan Quraisy, memerintah atas kalian.”

(Lihat: Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, Jilid 6, Hal 4, no 3398, Cetakan Mesir, Tahun 1334. Juga terdapat hadis yang mirip dengan ini dalam Sahih Muslim, dengan perbedaan redaksi)



4-      Imam Muslim dalam Sahih Muslim menuliskan:

Jabir meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah s.a.w yang agung bersabda: “Islam akan selalu besar hingga datang dua belas Imam. (Jabir berkata), kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Aku bertanya pada ayahku, apa yang beliau katakan? Beliau (Rasul) menjawab: “Semuanya dari golongan Quraisy.”

(Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, Jilid 6, Hal 3, no 3398, Cetakan Mesir, Tahun 1334)



5-      Imam Turmudzi dalam Sahih Turmudzi menuliskan:

Jabir berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan ada dua belas Imam dan Pemimpin setelahku.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tak dapat kumengerti. Aku menanyakan pada seseorang di sampingku tentang itu. Dia berkata: “Semuanya dari golongan Quraisy.”

(Hadis ini dinyatakan ‘Baik’ dan ‘Sahih’ oleh Imam At-Turmudzi sendiri, diriwayatkan oleh Jabir dengan jalur Sanad yang berbeda. Lihat: Sahih Turmudzi, Jilid 2, Halaman 45, no 2149, Cetakan New Delhi, Tahun 1342. Hal yang sama dikutip dari Jabir oleh Imam Abi Dawud dalam Sahih Abi Dawud, Kitab Al-Manaqib, Jilid 2, Halaman 207, no 3731, Cetakan Matba’ah Taziyah-Mesir)



6-      Imam Ahmad bin Hambal dalam  Musnad Ahmad menuliskan:

Rasulullah s.a.w bersabda: “Terdapat dua belas Khalifah untuk umat ini.”

(Lihat: Musnad Ahmad, Musnad Basyriyin, Jilid 5, Halaman 106, Cetakan Matba’ah Maymaniyah-Mesir, Tahun 1313. Imam Ahmad dalam Musnad beliau telah menukil tiga puluh empat rantai hadis yang berlainan dalam masalah ini yang semuanya dari Jabir)



7-      Imam Abu Dawud dalam Sahih Abi Dawud menuliskan:

Masyruq berkata: Kami duduk bersama Abdullah bin Mas’ud, mempelajari Al-Quran darinya. Seseorang bertanya kepadanya: Apakah engkau menanyakan kepada Rasulullah s.a.w tentang berapa Khalifah yang akan memerintah umat ini? Ibnu Mas’ud menjawab: Tentu saja kami menanyakan hal ini kepada Rasulullah s.a.w dan beliau menjawab: “Dua belas, seperti jumlah pemimpin Bani Israil.”

(Lihat: Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Al-Mutaakhirin minas Shahabah, Jilid 1, Halaman 398, no 3595 dan 3665, juga Jilid 13, Halaman 182, Cetakan Darul-Makrifah, Edisi Kedua. Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul-Bari fi Syarhi Sahih Al-Bukhari menganggap kutipan Imam Ahmad bin Hambal dari Ibnu Mas’ud sebagai riwayat hadis dengan sanad yang baik)



8-      Imam Abu Dawud  dalam Sahih Abi Dawud menuliskan:

Rasulullah s.a.w bersabda: “Agama ini akan tetap agung sampai datang dua belas Imam.” Mendengar hal ini, orang-orang mengagungkan Allah dengan berkata: “Allahu Akbar!” (Allah Maha Besar) dan menangis keras. Kemudian beliau (Rasul) mengatakan sesuatu dengan suara yang pelan. Aku bertanya kepada ayahku: “Apa yang beliau katakan?” Beliau menjawab: “Mereka semua dari golongan Quraisy.”

(Lihat: Sahih Abi Dawud, Jilid 2, Halaman 309, Cetakan Darul-Fikr, Edisi Pertama, Tahun 1410)



9-      Al-Hakim An-Naisaburi dalam Mustadrak ‘alas Sahihain menuliskan:

Awn mengutip dari ayahnya Abu Juhaifah sebagai berikut; Aku dan pamanku sedang bersama Rasulullah s.a.w, ketika itu beliau bersabda: “Urusan umatku akan terus berlalu sampai datang dua belas Khalifah.” Kemudian beliau memelankan suaranya. Aku bertanya kepada pamanku yang duduk di depan, tentang apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. Lantas ia menjawab: “Wahai anakku, Rasulullah bersabda bahwa mereka semua dari golongan Quraisy.”

(Lihat: Mustadrak ‘alas Sahihain, Jilid 3, Halaman 618, Cetakan Haidar Abad Press, Tahun 1334. Juga Nuruddin Al-Haitsami dalam Kitab Majma’ Az-Zawa’id, Jilid 5, Halaman 190 mengenai hadis ini mengatakan: “At-Tabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Ausath dan Al-Mu’jam Al-Kabir, dan Bazzaz juga mengutip hadis ini. Sanad hadis nukilan At-Tabrani  sama dengan apa yang tercantum dalam kitab Sahih.”)



10-   Imam At-Tabrani  dalam Al-Mu’jam Al-Kabir menuliskan:

Jabir meriwayatkan, aku dan ayahku sedang berhadapan dengan Rasulullah s.a.w ketika beliau bersabda: “Pemerintahan dan Khalifah umat ini akan berjumlah dua belas. Mereka tiada akan menderita meskipun orang-orang tidak memberikan pertolongan.” Lantas beliau menambahkan sesuatu yang tidak kudengar. Aku menanyakan hal itu kepada ayahku. Rasulullah mengatakan bahwa mereka semua dari golongan Quraisy.

(Lihat: Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir karya At-Tabrani, Jilid 2, Halaman 196, Cetakan Maktabah Ibnu Taimiyah, Edisi Kedua)



Perlu dicatat bahwa kata “Mereka tiada akan menderita meskipun orang-orang tidak memberikan pertolongan” dalam hadis diatas tadi ingin menjelaskan bahwa, legalitas dan keabsahan kepemimpinan mereka tidak tergantung dari pengakuan masyarakat luas. Bukti bahwa kepemimpinan mereka adalah kepemimpinan Ilahi, sebagai penerus kepemimpinan Rasul atas umat beliau.



11-   Imam At-Tabrani dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir menuliskan:

Jabir berkata: Aku mendengar khutbah Rasulullah s.a.w akan ada dua belas Wali (Pemimpin) dari Quraisy, yang perlakuan jahat musuhnya tidak akan membahayakan mereka. lantas aku berbalik dan melihat ayahku beserta Umar diantara para hadirin. Mereka menegaskan hadis itu, sebagaimana yang kudengar.

(Lihat: Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir karya At-Tabrani, Jilid 2, Halaman 256, Cetakan Maktabah Ibnu Taimiyah, Edisi Kedua)



Perlu dicatat bahwa kata “perlakuan jahat musuhnya tidak akan membahayakan mereka” dalam riwayat diatas merupakan fakta bahwa Khalifah/Imam yang disebut-sebut haruslah dari kedua belas orang tersebut, meskipun secara zahir mereka tidak menjabat dan memegang tampuk kepemimpinan dan berkuasa atas umat Rasulullah.



12-   Syeikh Sulaiman Al-Qonduzi Al-Hanafi dalam Kitab Yanabi’ Al-Mawaddah menuliskan:

Jabir berkata, Aku dan ayahku berada di hadapan Rasulullah s.a.w ketika beliau bersabda: “Akan ada dua belas Khalifah setelahku.” Kemudian beliau memelankan suaranya. Aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w dengan suara pelan. Ia menjawab bahwa, Rasul s.a.w bersabda: “Mereka semua berasal dari Bani Hasyim.”

(Lihat: Kitab Yanabi’ Al-Mawaddah, Jilid 2, Halaman 315)

RUMUSAN
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa para Khalifah/Imam tadi bukan hanya sekedar dari suku Quraisy saja, namun lebih spesifik dan dikhususkan pada Bani Hasyim. Karena hadis tentang Quraisy bersifat umum dan diperjelas secara khusus dengan hadis Bani Hasyim.

Maka adalah menjadi KEWAJIBAN seluruh umat ISLAM tanpa mengira apa mazhab dan aliran perlu mengkaji dan mengenal SIAPA INSAN YANG DI GELAR 12 IMAM.

Tuesday, 2 September 2014

KEBENARAN KEUJUDAN 12 IMAM (SIRI 1)
















FOTO DI ATAS ANTARA PEMBUKTIAN KEUJUDAN 12 IMAM SUCI DI MASJID NABAWI MADINAH

Ulama terkenal Al-Dhahabi mengatakan dalam bukunya Tadzkirat al-Huffaz, jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-‘Asqalani menyatakan dalam al-Durar al-Kaminah, jilid 1, hal. 67 bahwa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i (disingkat Al-Juwayni) adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni. Al-Juwayni menyampaikan dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,

”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah Al-Mahdi.”


Al-Juwayni juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata:

”Sudah pasti bahwa wakil-wakilku dan Bukti Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”

Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”.

Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.”

Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?”

Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (a.s.) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahwa Rasulullah (sawa) mengatakan:

“Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.” [Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam) yang percaya pada individu-individu itu sebagai Dua Belas orang yang benar dan berhak sebagai Penerus Nabi (sawa) dan pelajarilah pemahaman Islam dari mereka.

Untuk keterangan lebih detil tentang Islam yang otentik, kunjungi situs ini: http://al-islam.org/faq/

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi (sawa) berkata:
”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”

[Sahih al-Bukhari (Bahasa Inggris), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam;

Sahih al-Bukhari, (Bhs Arab), 4:165, Kitabul Ahkam]

Nabi (sawa) bersabda:

“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.”

[Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Hadis no. 4483; Sahih Muslim (Bhs Arab), Kitab al-Imaara, 1980 Edisi Saudi Arabia, v3, p1453, Hadis no.10]

PERSOALAN
SIAPAKAH IMAM 12 DALAM KEFAHAMAN SUNNI

Siapakah Dua Belas Penerus Nabi (s.a.w.a)?
Apa yang dikatakan para Ulama Sunni:
Ibn al-‘Arabi:
Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.
Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….
Saya tidak paham arti hadis ini.
[Ibn al-'Arabi, Sharh Sunan Tirmidhi, 9:68-69]
Qadi ‘Iyad al-Yahsubi:
Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi.
[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, 12:201-202;
Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]
Jalal al-Din al-Suyuti:

Hanya ada dua belas Khalifah sampai Hari Pengadilan. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait (keluarga) Nabi (as).”
[Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12;
Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]
Ibn Hajar al-‘Asqalani:
Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.
Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan.
[Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]
Ibn al-Jawzi:
Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s). Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]
Al-Nawawi:
Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.
[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]
Al-Bayhaqi: 
Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]
Ibn Kathir: 
Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.
Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan. Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil.
[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249-250]

PEMILIHAN ALI AS SEJAK AWAL KENABIAN RASUL SAW DALAM HADIS INDZAR


Dengan hadis Indzar kita akan mengetahui bahwa sejak awal kenabiannya Rasulullah saw telah memilih dan mengangkat Ali bin Abi Thalib (as) sebagai saudaranya, washi dan khalifahnya.

Allah swt berfirman:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الاْقْرَبِين
“Berilah peringatan kerabatmu yang terdekat” (Asy-Syu’ara': 214),

Ketika ayat ini turun Rasulullah saw mengumpulkan tokoh-tokoh dari keluarga terdekatnya dan mengajak mereka agar masuk Islam. Kisah ini disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam, kitab-kitab tarikh, sirah, tafsir dan hadis.

Dalam suatu riwayat disebutkan: Abdullah bin Abbas mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: Ketika ayat ini turun kepada Rasulullah saw, beliau mengajakku dan bersabda: “Wahai Ali, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mengingatkan kerabatku yang terdekat.”

Kemudian Rasulullah saw mengumpulkan keluarga terdekatnya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Ketika mereka berkumpul Rasulullah saw bersabda:
يا بني عبد المطّلب، إنّي قد جئتكم بخيري الدنيا والاخرة، وقد أمرني الله تعالى أنْ أدعوكم إليه، فأيّكم يوآزرني على أمري هذا ويكون أخي ووصيّي وخليفتي فيكم؟
“Wahai Bani Abdullah Muthallib, aku datang kepada kalian untuk menyampaikan dua kebaikan dunia dan akhirat. Allah memerintahkan aku untuk mengajak kalian pada kebaikan itu. Siapakah di antara kalian yang bersedia membantuku untuk urusanku ini, dan menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku untuk kalian?” Mereka yang hadir semuanya diam, tidak bersedia. Lalu aku (Ali), yang saat itu paling muda dari mereka, berkata: Ya Nabiyallah, aku bersedia menjadi pembantumu dalam urusanmu ini.

Kemudian Rasulullah saw memegang pundakku dan bersabda:
إنّ هذا أخي ووصيّي وخليفتي فيكم، فاسمعوا له وأطيعوا
“Sesungguhnya ini (Ali) adalah saudaraku, washiku dan khalifahku untuk kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.”

Kemudian mereka berdiri sambil tertawa dan berkata kepada Abu Thalib: Dia (Muhammad) menyuruhmu mendengar Ali dan mentaatinya. (Ma’alim At-Tanzil 4: 278-279).

Macam-macam Redaksi Hadis Indzar
Redaksi hadis Indzar bermacam, antara lain:

Rasulullah saw bersabda:
إنّ هذا أخي ووصيّي وخليفتي فيكم، فاسمعوا له وأطيعوا
“Sesungguhnya ini (Ali) adalah saudaraku, washiku dan khalifahku untuk kalian, maka dengarlah dia dan taati.”
Rasulullah saw bersabda:
من يبايعني على أن يكون أخي ووصيّي ووليّكم من بعدي؟ قال علي: فمددت يدي فقلت: أنا أُبايعك. فبايعني رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Siapakah yang akan berbaiat padaku untuk menjadi saudaraku, washiku, dan pemimpinmu sesudahku?” Kemudian aku (Ali) mengulurkan tanganku dan berkata: Aku mau berbaiat kepadamu. Lalu Rasulullah saw membaiatku.

Rasulullah saw bersabda:
إنّ هذا أخي وكذا وكذا
“Sesungguhnya ini (Ali) adalah saudaraku demikian dan demikian.”
Mengapa dalam riwayat ini tidak disebutkan kalimat: Washiku dan khalifahku? Di sinalah terjadinya penyimpangan hadis Nabi saw oleh orang-orang tertentu.

Kisah dan Hadis Indzar dengan segala macam redaksinya terdapat dalam kitab:
1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, jilid 6, halaman 324-329, Darul Fikr, Bairut 1403.
2. Tafsir Ath-Thabari, jilid 19, halaman 74 dan 75, Darul ma’rifah, Bairut.
3. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, halaman 168, Dar Thayyibah, Riyadh 1418 H.
4. Tafsir Ibnu Hatim, jilid 9, halaman 26-28; berbeda dengan cet Maktaba Nazzar Baz, Mekkah Mukarramah 1417 H.
5. Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 111, no: 885, Dar Ihya’ Turats Al-Arabi, Bairut 1414 H.
6. Sunan Al-Kubra, jilid 9, halaman 7, Darul Ma’rifah, Bairut.
7. Sunan An-Nasa’i, jilid 6, halaman 248. Dar Ihya’ Turats Al-Arabi.
8. Kanzul Ummal, jilid 13, halaman 131 dan 149, Muassasah Ar-Risalah, Bairut 1405 H.
9. Majma’uz zawaid, jilid 8, halaman 113 dan 303.
10. Ta’rib At-Tahdzib, jilid 2, halaman 144.
11. Khashaish Amirul Mu’minin, halaman 86, cet Al-Ghura.
12. Minhaj As-Sunnah, jilid 7, halaman 302.
Para perawi hadis Indzar
1. Ibnu Ishhaq, penulis Sirah
2. Ibnu Jarir Ath-Thabari
3. Ibnu Abi Hatim Ar-Razi
4. Ibnu Mardawaih
5. Al-HafizhAbu Na’im Al-Isfahani
6. Al-Baihaqi
7. Ahmad bin Hanbal
8. An-Nasa’i
9. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar, penulis Musnad
10. Said bin Manshur, penulis Musnad
11. Al-Hafizh Abul Qasim Ath-Thabari, penulis Mu’jam Al-Awsath
12. Al-Hafizh Abu Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi, penulis Al-Mustadrak
13. Al-hafizh Abu Ja’far Ath-Thahawi, penulis Musykilul Atsar.
14. Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi, penulis Tafsir.
15. Al-Hafizh Al-Baghawi, penulis Tafsir.
16. Al-Hafizh Ibnu Asakir Ad-damsiqi, penulis Tarikh Damsiq.
17. Al-Hafizh Ibnu Atsir, penulis Al-Kamil fit Tarikh.
18. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Haitsami, penulis Majma’uz zawaid.
19. Al-Hafizh Adz-Dzahabi
20. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi, penulis Ad-Durrul Mantsur.
21. Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kansul Ummal.

Monday, 1 September 2014

HADIS AL GHADHIR SEBAGAI PEMBUKTIAN YANG CUKUP SAHIH

POINT PENTING DALAM HADIS INI




1. Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum, suatu tempat antara Mekkah dan Madinah, sesudah haji wada’.

2. Hadis ini disampaikan di depan kurang lebih 150.000 sahabat, di bawah terik matahari yang sangat panas, sambil memegang tangan Imam Ali bin Abi Thalib (sa).

3. Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang paling mutawatir dari semua hadis, tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis Al-Ghadir.

4. Di Ghadir Khum, Rasulullah saw bersabda:
من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه
“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

5. Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw:
“Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.”
Kemudian beliau memegang tangan Ali seraya bersabda:
من كنت وليّه فهذا وليّه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه
“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ini (Ali) adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

6 .من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku mawlanya, maka ini Ali adalah mawlanya.” 

7. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa orang yang pertama kali mengucapkan “Ucapan selamat” kepada Ali bin Abi Thalib (sa) di Ghadir Khum adalah Umar bin Khaththab, dengan mengatakan:
بخ بخ لك يابن ابي طالب قد اصبحت مولاي و مولا كل مؤمن و مؤمنة
Selamat, selamat atasmu wahai putera Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua mukmin dan mukminah.

* Persoalannya:
Dimana cacatnya hadis tersebut?
Ada yang mengatakan peristiwa ini tidak wujud.
Kenapa masih ada yang enggan mengiktiraf hadis ini?
Kenapa yang masih mencari alasan dengan menafsirkan "MAULA" dengan istilah SAHABAT dan bukannya PEMIMPIN?
Ada pula yang mengatakan Ali hanya di lantik ketika itu sahaja. Sedangkan ada sahabat yang berjabat tangan mengucapkan TAHNIAH.


RUJUKAN HADIS AL GHADIR terlalu banyak dalam rujukan kitab kitab sunni maupun syiah menjadi satu hujah yang tidak dapat di tolak sama sekali mengenai KEPIMPINAN IMAM ALI AS SESUDAH RASUL SAW.

Hadis Al-Ghadir dengan segala macam redaksinya terdapat dalam kitab:
1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.
7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.
8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.
9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.
10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.
11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.
12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.
13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.
14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.
15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.
16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 26.
17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.
18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.
19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.
20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.
21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.
22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.
23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.
24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.
25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.
26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.
27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.
28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.
29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.
30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.
31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.
32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.
33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.
34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.
35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.
36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.
37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.
38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.
39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.
40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.
41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.
44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.
45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.
46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.
47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.
48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.
49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.
50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.
51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.
52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.
53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.
54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.
55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq
56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.
57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.
58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.
59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.
60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.
61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.
62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.
63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.
64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.
65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.
66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.
67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.
68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.
69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.
70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.
71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.
72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.
73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.
74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.
75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.
76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.
77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.
78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.
79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.
80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.

81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.